skip to main |
skip to sidebar
Hai Hai,
Buat kamu yang anak gunung pastinya 700 mdl itu ketinggian yang tergolong rendah yak??
Kalian pasti sudah menaklukan banyak gunung yang tinggi dan terkenal di sebagian belahan Indonesia.
Jadi ngiri deeeeh...
By the way, saya mau cerita dikit tentang pengalaman saya mendaki gunung. Gunung Api Purba namanya, ada di daerah Wonosari-Gunung Kidul. Puncaknya hanya 700 mdpl. Ini puncak pertama saya. Ini ketinggian pertama yang berhasil saya pijak setelah hampir 1 jam lebiiiiih saya mendaki. Untuk para pendaki yang handal tentunya gak perlu lagi berhenti untuk beristirahat. Kalau saya setidaknya 6 kali berhenti untuk beristirahat, karena jujur saya gak biasa jalan jauh. Saya emang anak rumahan, makanya saya selalu takjup mendengar cerita Torro sepulang dia dari mendaki gunung.
Saya ingat, saat saya dan rombongan saya mulai mendaki, saya sempat ragu. Ragu apa kah saya sanggup berjalan segitu jauhnya? Apa saya kuat? Saya takut merepotkan teman-teman saya nanti kalau tiba-tiba saya sakit atau saya ngeluh capek terus. Diwajah khawatir teman-teman saya karena mereka tau betul kondisi fisik saya seperti apa, mereka selalu memberi saya semangat. Dan setiap saat mereka selalu bertanya, 'Be Vi, kwencana???' Dan saya selalu ketawa mendengar itu.
Malam hari pukul setengah 9 saya mulai mendaki. Gelap itu pasti. Sepi itu iya. Dingin itu sudah gak perlu diragukan lagi. Tapi untungnya ada navigator terbaik sedunia yang hafal tempat tujuan kami mendirikan tenda.
Sesampainya ditempat kami mendirikan tenda, kaki saya rasanya mau copot. Capek. Nafas saya rasanya sudah habis. Kalaupun harus disuruh berjalan lagi saya pasti akan menolah dan memilih untuk ditinggalkan saja. Untungnya tempat dimana saya sudah diambang batas adalah tujuan kami mendirikan tenda.
Apa yang kami lakukan setelah sampai?? Kami langsung mendirikan tenda. 2 buah tenda. 1 tenda untuk para cowok, dan 1 tenda untuk para cewek. Setelah itu kami mencari kayu dan apa saja yang bisa dibakar untuk membuat api unggun. Lumayan untuk menghangatkan badan juga.
Hari itu sebenarnya hari spesial yang biasanya saya ingat-ingat terus. Tapi entah kenapa tahun ini saya sama sekali tidak mengingatnya. Bukan lupa sepenuhnya, hanya tidak terpikirkan. Karena apa yang saya harapkan atau inginkan di tahun ini sudah terpenuhi meskipun tidak semua. Acara pendakian ini pun tidak terencanakan sebelumnya.
Tapi sepertinya Tuhan memang sangat sayang kepada saya. Dengan diberikan sahabat yang luar biasa seperti mereka membuat saya sangat bersykur. Ya, saya tidak akan pernah lupa hari itu. Hari dimana saya berteriak histeris dan menangis sekencang-kencangnya karena mereka memberi saya KEPALA AYAM. Kenapa setiap tahun saya selalu mendapatkan hadiah ituu teruus????
Oke next,
Setelah acara api unggun, kami siap-siap untuk tidur. Jangan pernah nanya apakah tidur saya nyenyak, karena jawabannya sudah pasti TIDAK. Saya menggingil kedinginan, kaki saya keram dan linunya wow sekali. Bahkan saya ingin menangis rasanya. Tapi rasa itu tergantikan dengan melihat sunrise yang sangat menawan. Saya selalu jatuh cinta dengan ciptaan Tuhan yang satu itu,
Dan saat berada dipuncak dengan sedikit oksigen,, jujur saya kesulitan untuk bernafas, tapi saat melihat teman-teman saya bergembira karena sudah berada dipuncak, saya menghiraukan rasa sesak saya. Thank a lot Guys,,
Setelah puas menikmati keindahan Tuhan yang satu ini, kami pun pulang ketempat masing-masing.
Sebagian dari kalian mungkin bilang seperti ini, aaah, cuma gunung segitu doang aja udah bangga, itu sih bukit kalo menurutku.
Untuk kalian yang memiliki fisik yang sehat tidak seperti saya, tidak memiliki masalah pada pernafasan kalian, memiliki segudang pengalaman dalam naik turun gunung mungkin tidak akan masalah.
Tapi untuk saya, ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya bangga pada diri saya sendiri. Sekarang saya tau kenapa orang tua saya tidak pernah mengizinkan saya sama sekali untuk mendaki gunung seperti Merapi atau Merbabu yang terbilang dekat.
Deeply Lovely
-Tata Via-
Kamis, 22 Oktober 2015
Saya dan Ketinggian
Hai Hai,
Buat kamu yang anak gunung pastinya 700 mdl itu ketinggian yang tergolong rendah yak??
Kalian pasti sudah menaklukan banyak gunung yang tinggi dan terkenal di sebagian belahan Indonesia.
Jadi ngiri deeeeh...
By the way, saya mau cerita dikit tentang pengalaman saya mendaki gunung. Gunung Api Purba namanya, ada di daerah Wonosari-Gunung Kidul. Puncaknya hanya 700 mdpl. Ini puncak pertama saya. Ini ketinggian pertama yang berhasil saya pijak setelah hampir 1 jam lebiiiiih saya mendaki. Untuk para pendaki yang handal tentunya gak perlu lagi berhenti untuk beristirahat. Kalau saya setidaknya 6 kali berhenti untuk beristirahat, karena jujur saya gak biasa jalan jauh. Saya emang anak rumahan, makanya saya selalu takjup mendengar cerita Torro sepulang dia dari mendaki gunung.
Saya ingat, saat saya dan rombongan saya mulai mendaki, saya sempat ragu. Ragu apa kah saya sanggup berjalan segitu jauhnya? Apa saya kuat? Saya takut merepotkan teman-teman saya nanti kalau tiba-tiba saya sakit atau saya ngeluh capek terus. Diwajah khawatir teman-teman saya karena mereka tau betul kondisi fisik saya seperti apa, mereka selalu memberi saya semangat. Dan setiap saat mereka selalu bertanya, 'Be Vi, kwencana???' Dan saya selalu ketawa mendengar itu.
Malam hari pukul setengah 9 saya mulai mendaki. Gelap itu pasti. Sepi itu iya. Dingin itu sudah gak perlu diragukan lagi. Tapi untungnya ada navigator terbaik sedunia yang hafal tempat tujuan kami mendirikan tenda.
Sesampainya ditempat kami mendirikan tenda, kaki saya rasanya mau copot. Capek. Nafas saya rasanya sudah habis. Kalaupun harus disuruh berjalan lagi saya pasti akan menolah dan memilih untuk ditinggalkan saja. Untungnya tempat dimana saya sudah diambang batas adalah tujuan kami mendirikan tenda.
Apa yang kami lakukan setelah sampai?? Kami langsung mendirikan tenda. 2 buah tenda. 1 tenda untuk para cowok, dan 1 tenda untuk para cewek. Setelah itu kami mencari kayu dan apa saja yang bisa dibakar untuk membuat api unggun. Lumayan untuk menghangatkan badan juga.
Hari itu sebenarnya hari spesial yang biasanya saya ingat-ingat terus. Tapi entah kenapa tahun ini saya sama sekali tidak mengingatnya. Bukan lupa sepenuhnya, hanya tidak terpikirkan. Karena apa yang saya harapkan atau inginkan di tahun ini sudah terpenuhi meskipun tidak semua. Acara pendakian ini pun tidak terencanakan sebelumnya.
Tapi sepertinya Tuhan memang sangat sayang kepada saya. Dengan diberikan sahabat yang luar biasa seperti mereka membuat saya sangat bersykur. Ya, saya tidak akan pernah lupa hari itu. Hari dimana saya berteriak histeris dan menangis sekencang-kencangnya karena mereka memberi saya KEPALA AYAM. Kenapa setiap tahun saya selalu mendapatkan hadiah ituu teruus????
Oke next,
Setelah acara api unggun, kami siap-siap untuk tidur. Jangan pernah nanya apakah tidur saya nyenyak, karena jawabannya sudah pasti TIDAK. Saya menggingil kedinginan, kaki saya keram dan linunya wow sekali. Bahkan saya ingin menangis rasanya. Tapi rasa itu tergantikan dengan melihat sunrise yang sangat menawan. Saya selalu jatuh cinta dengan ciptaan Tuhan yang satu itu,
Dan saat berada dipuncak dengan sedikit oksigen,, jujur saya kesulitan untuk bernafas, tapi saat melihat teman-teman saya bergembira karena sudah berada dipuncak, saya menghiraukan rasa sesak saya. Thank a lot Guys,,
Setelah puas menikmati keindahan Tuhan yang satu ini, kami pun pulang ketempat masing-masing.
Sebagian dari kalian mungkin bilang seperti ini, aaah, cuma gunung segitu doang aja udah bangga, itu sih bukit kalo menurutku.
Untuk kalian yang memiliki fisik yang sehat tidak seperti saya, tidak memiliki masalah pada pernafasan kalian, memiliki segudang pengalaman dalam naik turun gunung mungkin tidak akan masalah.
Tapi untuk saya, ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya bangga pada diri saya sendiri. Sekarang saya tau kenapa orang tua saya tidak pernah mengizinkan saya sama sekali untuk mendaki gunung seperti Merapi atau Merbabu yang terbilang dekat.
Deeply Lovely
-Tata Via-





2 komentar:
cie munggah gunung. XD aku ora dijak.
Posting Komentar